Wednesday, December 8, 2010

Abdi Negara Kini

Dengan pengalaman kerja yang berhubungan dengan pns di suatu badan pemerintah, saya jadi kurang respek pada mereka. Mulai dari kenyataan yang ternyata bukan hanya desas-desus kalau mereka sering ngaret berjam-jam, sampai pelayanan yang lelet dan tidak efisien

(walaupun tidak semuanya seperti ini, ada juga pns yang berdedikasi mengerjakan tugas walaupun sudah lewat jam pulang*contohnya Mamak dan Bapak.Hehe..).
Ada satu pengalaman yang akhirnya membuka pikiran saya tentang pekerjaan ini.
Hari itu hari Sabtu. Sepulang dari kerja yang setengah hari itu, saya berencana untuk mengeposkan beberapa lamaran pekerjaan*mencoba peruntungan baru, lalu membeli tiket pulang di Stasiun Gambir untuk dua hari lagi.
Tapi saya keluar kantor sudah pukul 1 lewat, dan kantor pos pusat tutup pukul 2 siang. Waktu terlalu mepet kalau saya memaksakan diri untuk ke kantor pos. Apalagi suasana siang hari itu sangat panas, menghilangkan mood saya seketika.
Setelah membatalkan niat untuk mengeposkan surat lamaran itu, saya langsung menuju Stasiun Gambir naik Transjakarta. Memasuki pintu Stasiun Gambir dengan shelter gambir 2, saya merasa beruntung. Mata saya tertuju pada papan besar berwarna oranye yang bertuliskan kantor pos. Wah kebetulan sekali...ternyata di Stasiun Gambir ada kantor pos..Sejak kapan ya? ^ ^
Saya lalu menuju pintu kantor pos yang digantungi tulisan ”close” . Yah wajar saja karena ini sudah jam 2 lewat....pikir saya. Tapi saya tidak menyerah. Celingak-celinguk saya mengintip ke dalam melalui pintu kacanya. Sedikit terlihat bagian dalamnya. Ternyata ada seseorang di dalam. Seorang bapak memakai baju batik coklat.
”Ada apa mbak?” bapak itu bertanya pada saya melalui celah pintu kaca. ”Saya mau ngeposin surat pak”, jawab saya berharap..”kilat khusus?”..”bukan pak”, hampir hilang harapan..
”Ya masuk aja”, kata bapak itu sambil membuka kunci pintunya.
Saya lalu menjelaskan kalau saya mau mengeposkan beberapa surat dan bukan kilat khusus, tapi apa bisa diposkan di situ sekalian saja karena sekarang saya sudah ada disini. Daripada saya harus ke kantor pos pusat yang pasti sudah tutup. Bapak itu tersenyum mengerti.
Bapak ini tampaknya sangat iba pada saya yang sudah kelihatan kucel dan kepanasan. Dia menyalakan AC, dan menyuruh saya untuk duduk di dekat AC*jadi malu sendiri.
Tambah malu lagi, karena saya membuat Bapak itu menunggu karena saya belum memasukkan kertas yang akan diposkan ke dalam amplop*dan meminjam strepler kertas. Hehehe..
”Santai saja mbak. Tidak usah buru-buru. Saya sekarang juga sedang membereskan dokumen-dokumen”, katanya sambil sibuk membongkar kertas-kertas dari lemari.
Setelah saya selesai memasukkan kertas-kertas ke dalam amplop, bapak itu menimbang amplop-amplop yang akan saya poskan. Ternyata perangko yang saya tempelkan kurang untuk berat setiap amplop. Kemudian saya membeli perangko tambahan untuk tiap amplopnya.
Kami berdua mengobrol lumayan banyak selama itu. Ditengah obrolan itu saya tahu nama bapak itu adalah Bapak Juki, dan dia baru 3 bulan dipindahkan dari kantor pos pusat ke kantor pos Gambir ini. Dalam obrolan kami saya bertanya,” Disini ada kantor pos sejak kapan ya pak, perasaan saya sering ke Gambir tapi tidak melihat tanda-tanda ada kantor pos. Apa kebetulan karena saya sedang mencari ya, makanya melihat disini ada kantor pos”.
Pak Juki hanya tersenyum dan bilang, ” Mungkin karena palang tanda petunjuk kantor pos yang saya pasang beberapa hari lalu jadi mbak tahu disini ada kantor pos”.
Saya tersenyum menyadari apa yang dilakukan Pak Juki. Sebuah dedikasi pada pekerjaan. Hal yang tampak sepele namun besar artinya. Memasang palang tanda petunjuk kalau disitu ada kantor pos.
Setelah semua amplop saya di cap, saya mengucapkan terimakasih pada Pak Juki. Pak Juki melepas saya dengan menyilakan saya untuk berkunjung lagi ke sana kalau kebetulan ke Stasiun Gambir.
Selama berjalan keluar kantor pos, saya tersadar ternyata memang masih ada orang yang berdedikasi pada pekerjaan yang dianggap banyak orang sebagai pekerjaan yang santai-santai saja dan cenderung tidak bertanggung jawab.

Note :
Mamak saya bekerja sebagai pns sudah 25 tahun. Beberapa hari yang lalu saya sedikit terkejut ternyata sewaktu iseng memasukkan nama Mamak ke kuis fb *profesi yang sesuai untuk kamu berdasarkan fengshui nama* ternyata pekerjaan yang cocok untuk Mamak memang pns. Haha...

salam sehat ^^

Monday, December 6, 2010

Jadi Abdi Negara

Tanyakan pada beberapa orang, dan mereka akan mengiyakan kalau orang tua mereka menginginkan mereka menjadi abdi negara(a.k.a pegawai negeri), termasuk saya ^^. Dengan berbagai alasan orang tua saya membujuk saya untuk mencoba pns, berusaha mengalahkan idealisme saya untuk menjadi bos buat diri saya sendiri*bos tempat laundry-an.

Iming-iming mereka mulai dari jenjang karir yang jelas, dan tentunya ada tunjangan kesehatan dan dana pensiun.
Akhir tahun seperti ini banyak sekali lowongan pegawai negeri di berbagai daerah. Salah satu yang akhirnya saya coba untuk memasukkan lamaran adalah lowongan pegawai negeri provinsi kampung halaman saya. Hehe..
Uniknya (atau ribetnya) untuk memasukkan berkas di lowongan pegawai negeri ini, saya harus menyerahkanya sendiri. Tidak bisa diwakilkan, dan tidak ada pengecualian bahkan untuk saya yang saat itu masih bekerja di Jakarta. Alhasil saya harus membolos kerja dua hari untuk kembali ke kampung halaman saya.

Perlu diketahui nih, syarat-syarat berkas untuk pegawai negeri itu tidak terlalu banyak, tapi untuk mengurusnya butuh waktu yang banyak. Makanya sebelum saya pulang, orang-orang rumah (Bapak, Mamak, dan Adek saya) membereskan berkas yang bisa dibereskan sebelumnya seperti kartu kuning (kartu pencari kerja), legalisir ijazah, dll. Sedangkan yang tidak bisa diwakilkan yaitu menulis surat lamaran yang harus dengan tulisan tangan dengan tinta hitam, lalu ditandatangani di atas materai.
Untungnya di kostan saya ada teman seperjuangan yang melamar PNS untuk provinsi lain. Jadilah kami berdua bela-belain menulis surat lamaran pns tengah malam (setelah pulang dari nonton Harry Potter and the Deathly Hollow part 1 di mall dekat kostan..hehe), sebelum keesokan harinya saya harus pulang kampung naik kereta.

Selain surat lamaran, yang harus saya urus sendiri adalah SKCK (surat keterangan catatan kepolisian) karena membutuhkan sidik jari* tidak perlu dijelaskan disini ya apa saja syarat untuk bisa mengurus SKCK yang harus dicari kemana-mana mulai dari tingkat RT/RW, kelurahan dan kecamatan...bisa pusing sendiri kalau diingat*

Banyak cerita unik selama mengurus SKCK di samsat dekat rumah. Ternyata tidak hanya saya saja yang berencana mengurus SKCK hari itu. Sampai di samsat saya sudah melihat antrian panjang di bagian sidik jari. Sebelum diambil sidik jarinya, saya harus mengisi formulir tentang data diri.Agak aneh juga data yang harus diisikan. Mulai dari yang normal-normal saja seperti jenis rambut dan warna kulit. Sampai yang agak aneh yaitu bentuk dahi (pilihanya melengkung, membulat sampai bingung sendiri membayangkan saya masuk kategori yang mana sambil mengusap-usap jidat^^).

Setelah selesai urusan sidik jari, saya harus memasukkan dokumen saya untuk dicek kelengkapanya...dan ternyata sudah lengkap. Selanjutnya hanya tinggal menunggu SKCK saya jadi. Nah ini dia bagian yang paling sulit. Kalau bisa menunggu sambil duduk santai-santai sampai nama saya dipanggil itu tidak masalah. Tapi ruangan untuk menunggu sangat kecil, dan hanya berisi dua baris kursi tunggu. Dengan banyak orang yang menunggu tidak ada ruangan yang tersisa untuk bergerak leluasa. Semua orang campur baur, mulai dari yang baru mengumpulkan dokumen sampai yang tinggal menunggu.
Saya saja sampai merasa sesak napas, dan Bapak yang mengantar saya lebih memilih untuk menunggu di luar.

jam 09.30 = memasukkan dokumen
jam 11.00 = petugas membagikan SKCK yang sudah jadi dengan memanggil
jam 11.45 = mendengar kabar kalau yang baru memasukkan dokumen hari itu, SKCK nya baru jadi keesokan harinya (saya tidak mungin menungu besok, karena besok harus daftar online, menyerahkan berkas dan sorenya sudah harus balik ke Jakarta *sigh..benar-benar dikejar waktu)
jam 12.00 = terpotong istirahat sampai 12.30, makan dulu di kantin. Isi perut yang masih kosong.
jam 12.30 = berjuang lagi di tengah kerumunan orang-orang *berharap kalau kabar tadi siang hanya dihembuskan orang-orang yang mau menyingkirkan saingan agar tidak antri berdesak-desakkan*

Saking berdesakannya orang mengantri, ketika seseorang dipanggil namanya tapi dia berada di belakang, maka SKCKnya diberikan secara berantai dari orang yang berada di depan loket sampai orang yang bersangkutan. Setelah itu orang yang sudah menerima SKCK akan menyerahkan uang administrasi Rp 50.000 yang akan diberikan secara berantai juga kepada petugas loket. Hehe...

Sebelum istirahat saya dan Bapak masih meminta tolong untuk mencarikan SKCK dengan nama saya diantara tumpukan SKCK yang sudah jadi kepada petugas. Sampai petugasnya bosan sendiri karena kami terus bertanya. ”Kalau gak ada di tumpukan ini (SKCK yang sudah jadi), berarti jadinya besok”, begitu selalu jawaban dari petugas. Tapi saya dan Bapak tidak putus semangat.

Setelah istirahat kami tetap menunggu di depan loket, memperhatikan *setengah melotot petugas yang membagikan SKCK. Sekitar pukul 3 sore, akhirnya nama saya dipanggil juga. Rasanya lega bukan main. Perjuangan kami * yang tidak tahu malu^^ ternyata tidak sia-sia.

Terbayang dalam pikiran apa saja yang harus saya lakukan setelah ini. Besok mengumpulkan berkas, dan minggu depannya menghadapi ujian CPNS, bersaing dengan ribuan orang.
Ah tapi itu semua masih bisa menunggu. Dalam perjalanan pulang, saya dan Bapak mampir makan di sebuah warung Sunda sekitar jalan Kaliurang. Nasi timbel plus ayam bakar dan es cendol cukup menghapus lelah kami hari itu.

Salam sehat ^ ^.