Wednesday, September 29, 2010

157 to Grogol part2

Banyak cara untuk meraih rupiah.Tapi ternyata cara-cara yang dipakai bisa membuat saya terkaget-kaget. 157 menjadi tempat berlangsungnya berbagai peristiwa yang bisa membuat geleng-geleng kepala. Kemarin di tengah-tengah 157, ada seorang bapak yang bercerita tentang apa yang baru saja dialaminya.

Bapak itu masuk dari belakang 157.Awalnya saya mengira dia hanya penumpang biasa. Tapi dia melewati kursi-kursi penumpang yang kosong begitu saja, dan berdiri di depan, di tengah-tengah 157.
"Mohon maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, apabila saya mengganggu perjalanan bapak ibu sekalian..", begitu bapak itu memberi pembuka untuk ceritanya.
Dia lalu memperkenalkan diri dengan menyebut namanya. Dia bercerita bahwa beberapa hari yang lalu istrinya melahirkan anak pertama mereka yang telah ditunggu-tunggu selama 8 tahun di sebuah RSUD Dan istrinya ternyata melahirkan secara caesar dan dianastesi. ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit baginya yang hanya seorang buruh.
Lalu bapak itu mengeluarkan foto dia bersama istrinya dan menyebutkan tanggal pernikahan mereka. Dia tidak menceritakan pada istri dan orangtuanya kalau dia mencari uang dengan cara ini.
Saya ingat sekali wajah bapak itu, sangat mengiba. Dia terus bercerita, tidak peduli dengan lalu lalang penumpang yang baru saja naik dan melewatinya.
Bapak itu lalu meminta keikhlasan dari para penumpang untuk menyumbang secukupnya..."Ikhlas dari Anda, Halal bagi kami", itu kata-kata yang saya ingat terus menerus diulang bapak itu.
Dia melepaskan peci yang digunakannya dan kemudian mengulurkannya kepada para penumpang untuk meminta sedekah. Saat itu saya sudah harus turun, karena 157 sudah sampai di perempatan Grogol.
Dalam hati saya berharap semoga bapak tadi tidak berbohong mengarang cerita yang bisa membuat banyak orang tersentuh itu hanya untuk memperoleh sedikit uang.





Entah mana yang harus lebih dihargai.Bapak ini yang mungkin saja mengarang cerita bohong tapi setidaknya dia berusaha,atau mas-mas yang tampak segar bugar,namun mencari uang dengan mungkin saja berpura-pura menjadi orang tunarunggu.

Saya ingat dengan mas-mas itu.Apalagi dengan caranya mengamen. Dia tidak membawa alat musik apapun.Hanya bermodalkan tepuk tangan. Dia tidak menyanyikan lagu-lagu band yang sedang hits seperti anak-anak jalanan yang biasa mengamen. Hanya menyenandungkan kata bla..bla..bla..bla...bla..bla..bla..tapi tidak tampak seperti orang yang memiliki keterbatasan fisik.
Seperti apa nada senandungnya pun saya masih ingat sampai sekarang.Miris hati saya melihatnya. Ada juga orang yang sudah putus asa berjuang dalam hidup, hingga tampak pasrah melakukan apa saja untuk mendapatkan uang. Jelas saja saya tidak akan memberikan uang pada mas-mas itu.

Setelah berapa kali menyaksikan orang-orang yang "berjuang" di 157, saya dapat memilah mana saja orang yang layak saya bantu dan mana yang tidak layak.

Saya paling suka dengan pengamen jalanan yang suaranya bagus. Ada 2 kelompok pengamen yang sering saya temui di 157.
Mas-mas yang terdiri dari 3 orang. Dua orang membawa gitar dan satu orang yang lebih gemuk dari lainnya membawa gendang.
Mereka menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri dengan kata-kata yang menyentil dan bisa membuat kita tergelitik untuk memberi uang. Lumayan sebagai hiburan di tengah perjalanan pulang ^ ^...
Ada lagi pengamen yang terdiri dari 2 orang..tapi lagu-lagu yang mereka nyanyikan selalu sama. Lagu pertama yang saya dengar dari mereka adalah lagu Ya, sudahlah milik Bondan Prakoso. Cukup bagus sampai akhirnya saya tertarik mendownload lagu itu..Hehe.
Biasanya dilanjutkan dengan mereka menyanyikan lagu Pemuja Rahasia milik Sheila on 7.

Masih banyak sekali orang-orang yang saya temui..Anak-anak Punk yang mengamen,ibu-ibu yang menyanyi tembang lawas dengan suara yang kecil sekali sampai tidak ada yang mendengar sama sekali, penjual asongan, penjual alat memasukkan benang ke dalam jarum, penjual pisau, alat cukur, kanebo..., penjual buku..sampai tukang sulap.Hehe..

Satu yang paling unik yang saya temui adalah Mbah Wiro. Dia mengamen menyanyikan lagu-lagu Jawa dan berbicara terus memakai bahasa Jawa. Semoga selain saya juga ada penumpang yang mengerti apa yang dia bicarakan. Setelah menyanyi dia memberikan beberapa nasihat, dan diakhir khotbah singkatnya dia meminta keikhlasan para penumpang dan mendoakan setiap penumpang agar diberikan keselamatan dan kesuksesan. Bahkan dia juga mendoakan kota Jakarta agar tidak tertimpa bencana.
Saya memberikan uang receh padanya, "Matur nuwun nggih cah ayu (sempat gr nih dipuji^ ^)...", lalu dia mendoakan saya agar selamat dunia akhirat masih dengan menggunakan bahasa jawa. Setiap penumpang yang memberikan uang juga dia doakan.

Lima Jempol (1 jempol pinjam kaki tetangga :p..) buat semua orang yang berjuang di 157. Dengan cara apapun, yang jujur maupun berbohong. Semoga orang yang mencari uang dengan cara tidak benar akan diingatkan untuk berubah, karena esensi kehidupan adalah menjalaninya dengan ikhlas.

salam sehat^ ^..

5 comments:

  1. hehe... ak baru mo tanya siapa mbah wiro. kok kamu sampe bisa tau namanya? wwkwkwkwkkk... trus di part 1 juga disebut, itu mbah wiro kasih nasehat supaya kamu nulis di blog nya gmn? hehe... likes your posting nih... :D tetep semangat y.

    ReplyDelete
  2. wakakakak ntar ak jlasin pas kta ktemu ya :D

    ReplyDelete
  3. Terus terang saja...
    Aku juga terkadang mengalami dilema yang kurang lebih sama lho... *tentang suami yang bilang istrinya di operasi*
    Gak ngasih...kasihan...
    Mau ngasih...tapi ragu...boong ga ya?..

    Akhirnya...
    sependapat ama Deew ajah...
    Kalo mau ngasih...yang ikhlas aja...
    mau jujur atau bohong..itu mah urusan dia ama Tuhan...

    ReplyDelete
  4. eh...moderasi yak?

    tapi udah bisa komen kan?

    hihihi...
    *masih ragu*

    ReplyDelete
  5. yup...pakai moderasi mba..:D
    thx dah komen...moga ak juga bsa sering2 mpir d blog mba..hehe*gi nabung buat beli modem..:D

    ReplyDelete