Saturday, June 26, 2010

tak termaafkan?


Bagi para penggemar bola, tentu mengenal Barbosa. Kiper Timnas Brazil di Piala Dunia tahun 1950, yang karena kesalahannya dia merasa dihukum seumur hidupnya.


Moacir Barbosa Nascimento lahir pada tanggal 27 Maret 1921. Dia merupakan kiper terbaik di era tahun 1940-1950an. Ciri khasnya adalah tidak menggunakan sarung tangan, karena dia ingin merasakan bola dengan tangan telanjangnya.
Piala Dunia tahun 1950 dimana Brazil menjadi tuan rumahnya, merupakan akhir dari segalanya.
Pertandingan final antara Brazil dan Uruguay dilangsungkan di stadion Maracana yang sudah penuh dengan 200ribu orang. Pesta-pesta kemenangan sudah disiapkan masyarakat Brazil...mereka sangat yakin bisa menang. Sebelumnya Brazil telah membabat Spanyol dan Swedia dengan skor 7-1 dan 6-1.
Di pertandingan final itu Brazil dan Uruguay sempat imbang, 1-1 di awal babak kedua. Namun suporter Brazil masih yakin Brazil akan menang.
Gol penentu datang pada menit ke-81 dari Alchides Ghigia, dan tak dapat ditepis oleh Barbosa. Skor 3-2 untuk kemenangan Uruguay.

Stadion diselimuti kesepian yang mengerikan ketika wasit meniupkan peluit, tanda pertandingan berakhir. Ada satu kalimat dari Alchides Ghigia karena peristiwa ini :
"Only three people in history have managed to silence the Maracana with a single gesture: the Pope, Frank Sinatra and I"
(Hanya ada 3 orang yang dapat membuat keheningan di Maracana dengan satu gerakan. Paus, Frank Sinatra, dan saya)

Kemenangan Uruguay ini membuat masyarakat Brazil terpukul, bahkan ada beberapa fans yang bunuh diri.
Saat itu memang Brazil masih didominasi oleh orang kulit putih, dan menjadi sangat mudah menanggungkan semua kesalahan pada Barbosa yang berkulit hitam.Banyak pihak yang menyalahkannya, dan banyak penolakan yang diterimanya.
Pernah suatu kali saat dia berjalan-jalan, ada seorang ibu yang menunjuk padanya dan berkata "Ini dia orang yang membuat seluruh rakyat Brazil menangis".
Penolakan yang paling menyedihkan adalah pada saat Barbosa mengunjungi timnas Brazil yang akan bertanding di Piala Dunia 1994. Dia ditolak oleh pelatih timnas Brazil saat itu, Mario Zagallo. Barbosa dianggap membawa kutuk dan sial.
Rakyat Brazil sudah melupakan kegagalan Brazil di Piala Dunia tahun 1974,1978, dan 1988. Namun tidak akan pernah melupakan kekalahan di Tahun 1950 ini.
Barbosa hidup ditengah caci maki orang-orang disekitarnya. Teman-temannya juga meninggalkannya satu per satu. Dia menjadi seorang pesakitan.
Teresa Borba, karib Barbosa yang masih setia menemaninya, bersaksi, ''Barbosa bahkan menangis di bahuku dan hingga kematiannya dia selalu berkata: Aku tidak bersalah, saat itu kami bersebelas, bukan hanya aku seorang!''.

Barbosa meninggal dunia pada 8 April 2000 di usia 79 karena serangan jantung, dan hampir tanpa kekayaan sedikit pun.

Mengapa rakyat Brazil begitu sulit memaafkan kesalahan Barbosa? Sebab sepakbola adalah suatu kebanggan bagi negara tersebut.
Tapi apakah kesalahan itu tak dapat dimaafkan?
Setiap sudut kehidupan memiliki resiko. Seorang kiper mempunyai resiko kemasukan bola ke gawangnya. Seorang dokter mempunyai resiko gagal melakukan operasi. Seorang petugas KA memiliki resiko salah menginformasikan jadwal kereta hingga terjadi kecelakaan (tragedi bintaro).
Kita sudah tidak perlu menyalahkan mereka lagi. Meskipun kesalahan tersebut menyangkut kepentingan banyak orang. Kesalahan yang mereka perbuat sudah menjadi hukuman yang paling berat.

Kita harus saling memaafkan dan kemudian melupakan apa yang telah kita maafkan (Andrew Jackson)

salam sehat ^ ^

2 comments:

  1. huwaaa... hikssss..... 1000x... wah, dewi... ini menyedihkan banget,

    ReplyDelete
  2. skornya bukan 3-2 bro, yang bener 2-1 utk uruguay

    ReplyDelete